Esposin, SOLO — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat warga Soloraya cenderung memilih instrumen investasi berupa reksadana. Hal itu karena reksadana dinilai lebih aman.
Kepala Bagian Pengawasan LJK 1 Kantor OJK Solo, Septarini Haryati, mengatakan instrumen reksadana bahkan lebih digandrungi dibandingkan saham dan Surat Berharga Negara (SBN).
Ia mengatakan kecenderungan warga Soloraya dalam berinvestasi bisa dilihat dari kepemilikan rekening pasar modal. Berdasarkan catatan OJK, dari ratusan ribu warga yang terjun ke bursa, mayoritas menempatkan dananya pada manajer investasi melalui instrumen reksadana.
"Secara komposisi ini memang masih dominannya ada di SID [Single Investor Identification] Reksadana. Kalau untuk di Maret itu mencapai 478.000. Kemudian disusul dengan SID saham sebanyak 242.000, kemudian disusul SBN 26.000," jelas Septarini dalam paparannya saat konferensi pers OJK di Solo, belum lama ini.
Septarini membeberkan tingginya minat warga Soloraya terhadap reksadana ini selaras dengan pertumbuhan total investor secara keseluruhan. Ia mencatat ada peningkatan jumlah pendaftaran investor baru di wilayah Soloraya dalam year-on-year (YoY).
"Tercatat pertumbuhan SID secara year on year ini kami lihat pertumbuhannya sangat tinggi, yaitu sebesar 44,32 persen. Dari sebelumnya hanya 517.693 menjadi 747.000. Sehingga memang di sini terlihat bahwa ada peningkatan SID yang cukup besar di Soloraya," urainya.
Kecenderungan warga memilih reksadana ini sangat rasional di tengah iklim pasar saat ini. Ia menjelaskan kondisi pasar modal belakangan ini memang sedang menghadapi berbagai tantangan yang memicu naik-turunnya harga aset dengan cepat.
Kondisi Pasar Modal
Instrumen reksadana yang dikelola oleh profesional di bidangnya kerap dinilai sebagai opsi yang lebih aman bagi investor ritel atau investor pemula.
"Memang kita ketahui persis kondisi pasar modal ini kan ada peningkatan volatilitas. Ini memang terutama dipicu adanya tekanan dari faktor-faktor eksternal. Akan tetapi secara umum pasar modal ini masih manageable [terkendali] dengan beberapa indikator kinerja yang masih tumbuh positif," katanya.
Lebih lanjut, ia menerangkan meski mayoritas masyarakat memilih reksadana, perputaran uang di instrumen saham tetap menunjukkan nilai yang sangat fantastis. OJK mencatat perputaran uang dalam transaksi saham di Kota Solo menjadi yang tertinggi jika dibandingkan daerah lain di Soloraya.
"Untuk transaksi saham ini ternyata yang tertinggi ini juga ada di Soloraya [Kota Solo] yang mencapai Rp1,71 triliun. Kemudian disusul oleh Kabupaten Sukoharjo senilai Rp843 miliar dan Kabupaten Klaten Rp563 miliar," paparnya.
Sedangkan secara keseluruhan, Septarini menilai animo investasi saham masyarakat Soloraya sejatinya masih sangat kuat dan menunjukkan tren penguatan dalam rentang waktu tahunan. Meski demikian, nilai transaksi sempat terkontraksi pada pencatatan bulanan imbas dinamika bursa nasional.
Transaksi per Oktober tercatat merosot Rp2,07 triliun atau 31,82 persen dibandingkan posisi sebelumnya. "Apabila dibandingkan dengan posisi yang sama pada Maret 2025 atau secara year on year, untuk transaksi saham ini ada peningkatan Rp2,25 triliun atau 103,15 persen. Jadi sebenarnya kalau dibandingkan dengan kondisi tahun lalu, transaksi saham di Soloraya ini masih cukup baik," katanya.